AO (A…… O…..)

Sore itu ponsel Udin berdering, Udin yang sedang asyik main game kemudian mengambil ponselnya, ia lihat ponselnya itu, nomor tidak dikenal,,, Udin kira si Mbok yang slalu telpon dia.

“Assalamu’alaikum” kata Udin

“Walaikumsalam, selamat sore, dengan mas Udin?” sahut seorang mbak-mbak

“Iya, saya sendiri, ini dengan siapa ya?” Tanya Udin penasaran, dikira Mbok, ternyata Mbak.

“Ini dari Bank xx……., mas Udin bisa interview tanggal 20 ini ?” sahut mbak tadi

“O, dari Bank xx….. tanggal 20, hari kamis ya, ya saya bisa mbak” jawab Udin

“Iya, sampai ketemu nanti di Bank xx…..”

Begitulah kurang lebihnya perbincangan Udin dengan mbak-mbak yang menelponnya tadi. Udin senyum sumbringah menandakan bahwa ia senang alias bahagia.

SIngkat cerita tanggal 20 tiba, sesuai perjanjian Udin berangkat ke bank itu sendirian. Sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri baca-baca buku seputar wawancara kerja. Dengan langkah optimis ia berserah diri pada Ilahi menjalani tes itu.

Nama Udin dipanggil, artinya telah tiba giliran Udin untuk tes setelah sebelumnya para peserta yang jumlahnya sekitar 50-an lebih dulu maju.

Udin masuk ke ruangan interview, ia dipersilahkan duduk oleh dua asisten pewawancara yang ada di dalam ruangan itu. Ia lihat sang pewawancara tidak ada, tampaknya beliau lagi buang air di toilet. Udin duduk di bangku yang telah disediakan.

O’ itu dia sang pewawancara telah tiba, benar beliau tadi tampaknya memang dari toilet. Udin berdiri, ia menyapa sang pewawancara dan menjabat tangannya.

“Selamat siang, silahkan duduk” kata sang pewawancara

“Terimakasih pak” sahut Udin

Bismillah, ucap Udin dalam hati, ia duduk dengan yakin. Sang pewawancara kemudian menjelaskan tentang pekerjaan yang akan ditawarkan.

“Dari mana saudara mengetahui tentang lowongan pekerjaan ini?” setelah menjelaskan panjang lebar, sang pewawancara tiba-tiba bertanya

“Dari Koran Harian  pak, saya lihat ada lowongan pekerjaan di Bank xx menawarkan dua posisi, AO dan Mantri. Sebelum saya memutuskan untuk membuat lamaran, saya sudah mencari-cari informasi tentang posisi itu, dan saya tertarik dengan pekerjaan ini pak” jawab Udin

“Apa yang saudara ketahui tentang AO?” Tanya sang pewawancara kembali

“AO adalah seorang karyawan bank yang memiliki tugas mengelola kredit, seperti menganalisa kredit, membina nasabah, dll.” Jawab Udin

Setelah mendengar jawaban dari Udin tadi, sang pewawancara menjelaskan secara lebih mendetail tentang job desk AO. Ia juga menjelaskan perbedaan AO dan Mantri yang pada saat itu kebetulan Udin belum tahu. Kemudian sang pewawancara bertanya kembali.

“Jika saudara sekarang saya angkat sebagai AO, apa yang anda lakukan?”

Mendengar pertanyaan itu, Udin tampak kebingungan, terlihat dari rona wajahnya yang memerah. Karena ia belum mempersiapkan diri untuk pertanyaan yang menjurus ke permasalahan teknis seperti itu. Agar tidak terkesan kurang menguasai bahan, Udin memberikan jawaban yang normatif…

“Jika saya bekerja sebagai AO nanti, yang pertama saya lakukan adalah mencari data-data penduduk di mana saya akan ditugaskan. Nah, dari data-data itu terlihat mana orang-orang yang sesuai dengan kriteria untuk diajak sebagai nasabah.”

Mendengar jawaban Udin yang berbelit-belit sang pewawancara memotong penjelasan Udin.

“Saudara tinggal dimana? Anggap saja saudara ditugaskan di daerah saudara tinggal!’’

“Jika saya ditugaskan di daerah saya, saya sudah mengenal bagaimana keadaan daerah saya, saya akan mendatangi orang-orang yang saya kenal dulu yang memenuhi kriteria layak untuk dijadikan nasabah, misalnya para pengusaha.” Jawab Udin

“Kemudian jika saudara saya angkat sebagai Mantri, kemana tujuan saudara?” Tanya pewawancara itu kembali

Udin terdiam sejenak, ia sedang memikirkan jawaban apa yang cocok dari pertanyaan itu. Tiba-tiba pewawancara kembali berucap.

“saudara Udin suka makan apa, biasanya di mana tempat makannya?”

“O’iya pak, saya suka makan bakso, mungkin jika saya nanti jadi Mantri saya akan mendatangi pedagang bakso, atau orang yang ingin menjadi pedagang bakso” Kata Udin.

“Saudara yakin ingin bekerja sebagai AO?” Tanya pewawancara itu

“Iya, saya yakin pak, saya senang dengan pekerjaan ini, meskipun disadari kemampuan saya sekarang, tapi dengan belajar pada para professional saya yakin akan bisa” jawab Udin

“Cukup sekian dari saya, ada pertanyaan?” Kata pewawancara

“Menyimak dari perbincangan tadi, saya sudah belajar tentang bagaimana tugas & tanggung jawab AO, ada tidak target & sanksi yang diberikan jika kita tidak bisa mencapai target yang ditentukan?” Tanya Udin

“Target AO sebulan 500 juta, jika tidak bisa mencapai target, goodbye” Jawab pewawancara itu.

“Saya suka pekerjaan ini, saya bersedia dan antusias untuk belajar, saya berharap bisa bekerja di sini.” Kata Udin

“Iya, ini adalah tahap awal dari rangkaian tes untuk bekerja di sini, untuk tes ini pengumumannya lihat nanti sore jam 6 di papan pengumuman, jika saudara berhasil, saudara ikut psikotes hari Sabtu jam 8.”

Begitulah wawancara awal Udin untuk masuk kerja di Bank xx, ia tampak pesimis menunggu pengumuman itu. Karena ia merasa banyak yang kurang & kurang menjual dari wawancara tadi. Sekarang yang ada dalam pikiran Udin, kalau memang rezeki, saya akan masuk, dan jika tidak, ya pekerjaan ini bukan rezeki saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: