Memahami Teori dalam Penelitian Kualitatif

Lagi-lagi skripsiku terkendala di BAB II. Padahal udah beberapa kali ganti judul. Kenyataannya Bab II skripsiku  masih minim. Literatur yang kurang memadai & ketidaktersediaan bahan yang relevan, tak bisa kujadikan alasan untuk pembelaan. (hiks, hiks, hiks)

Tak apalah, mungkin ini salah satu rintangan untuk penyusunan skripsiku. Mencoba mengoreksi diri, kusadari memang bahwa aku belum memahami betul Metode Penelitian. Jika ditanya apakah matakuliah Metode Penelitian sudah kuambil, ya tentu sudahlah.

Dari pada larut dalam dilema karena skripsi, dipikir-pikir lebih baik aku memahami kembali apa itu teori dalam BAB II itu. Tampaknya ada pemahaman yang keliru padaku, hingga sekarang BAB II menjadi kendala buatku untuk diizinkan melakukan penelitian.

Pembahasan tentang teori dalam penelitian kualitatif kudapatkan dalam buku Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif dan  R&D karya Sugiono. Di buku itu dijelaskan semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori.

Dalam penelitian kualitatif, karena permasalahan yang dibawa oleh peneliti masih bersifat sementara, maka teori yang digunakan dalam penyusunan proposal penelitian kualitatif juga masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti memasuki lapangan.

Berbeda dengan penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus sudah jelas, karena teori akan berfungsi untuk memperjelas masalah yang diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis dan sebagai referensi untuk menyusus instrument penelitian.

Penelitian kualitatif bersifat holistik, jumlah teori yang harus dimiliki oleh peneliti kualitatif jauh lebih banyak karena harus disesuaikan dengan fenomena yang berkembang di lapangan. Peneliti kualitatif akan lebih professional kalau menguasai semua teori sehingga wawasannya akan menjadi lebih luas dan dapat menjadi instrumen penelitian yang baik.

Teori bagi peneliti kualitatif akan berfungsi sebagai bekal untuk bisa memahami konteks sosial secara lebih luas dan mendalam. Walaupun peneliti kualitatif dituntut untuk menguasai teori yang luas dan mendalam, namun dalam melaksanakan penelitian kualitatif, peneliti harus mampu melepaskan teori yang dimiliki tersebut dan tidak digunakan sebagai panduan untuk menyusun instrumen dan sebagai panduan untuk wawancara dan observasi.

Peneliti dituntut dapat menggali data berdasarkan apa yang diucapkan, dirasakan dan dilakukan oleh partisipan atau sumber data. Peneliti harus bersifat “perspektif emic” artinya memperoleh data bukan sebagai mana seharusnya, bukan berdasarkan apa yang dipikirkan oleh peneliti, tetapi berdasarkan sebagaimana adanya yang terjadi di lapangan, yang dialami, dirasakan dan dipikirkan oleh partisipan / sumber data.

Sumber bacaan :

Sugiyono. 2009.  Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: