Memahami Konsep Persepsi II

Persepsi sering disebut sebagai inti dari komunikasi, sedangkan penafsiran (interpretasi) adalah inti persepsi, yang identik dengan penyandian baik dalam proses komunikasi. Persepsi dikatakan inti dari komunikasi karena jika persepsi kita tidak akurat, tidak mungkin kita berkomunikasi dengan baik. Persepsilah yang menentukan kita untuk memilih suatu pesan dan mengabaikan pesan yang lain. Seperti pendapat dari John R. Weinburg dan William W.Wilmot : Persepsi dapat didefinisikan sebagai cara organisme memberi makna. Kemudian Rudolph F. Verderber mendefinisikan persepsi sebagai proses menafsirkan.informasi inderawi.

Pada dasarnya persepsi merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Menurut Brian Fellows yang dimaksud persepsi ialah proses yang memungkinkan suatu organisme menerima dan menganalisis informasi. Kemudian Kenneth A. Sereno dan Edward M. Bodaken mengemukakan definisi persepsi ialah sarana yang memungkinkan kita memperoleh kesadaran akan sekeliling dan lingkungan kita. Lebih lanjut Philip Goodacre dan Jennifer Follers menambahkan persepsi ialah proses mental yang digunakan untuk mengenali rangsangan.

Persepsi meliputi penginderaan (sensasi) melalui alat-alat indera kita (baik itu indera peraba, indera penglihat, indera pencium, indera pengecap dan indera pendengar), atensi, dan interpretasi.Menurut Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken, juga Judy J. Pearson dan Paul E. Nelson, menyebutkan bahwa persepsi terdiri dari tiga aktivitas, yaitu  seleksi, organisasi, dan interpretasi. Yang dimaksud seleksi sebenarnya mencakup sensasi dan atensi. Sedangkan organisasi melekat pada interpretasi, yang dapat didefinisikan sebagai meletakan suatu rangsangan bersama rangsangan lainnya sehingga menjadi suatu keseluruhan yang bermakna.

Tahap terpenting dalam persepsi ialah interpretasi atas informasi yang kita peroleh melalui salah satu atau lebih indera kita. Akan tetapi, kita tidak dapat menginterpretasikan makna setiap objek secara langsung. Dalam proses persepsi banyak rangsangan sampai kepada kita melalui panca indera kita, namun kita tidak mempersepsi semua itu secara acak. Alih-alih, kita mengenali objek-objek tersebut sebagai spesifik dan kejadian-kejadian tertentu sebagai memiliki pola tertentu. Umumnya kita hanya dapat memperhatikan suatu rangsangan saja secara penuh. Kalau kita memperhatikan dua atau lebih rangsangan pada saat yang sama, kualitas perhatian kita akan berkurang terhadap rangsangan-rangsangan tersebut.

Sumber : Mulyana, Deddy. 2004. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: