Pengalaman Berharga : Nasib Anak Kost

Bingung, kaget, panik dan aneh, semuanya terasa bercampur aduk dalam pikiranku. Bagaimana tidak, saat aku beristirahat dengan santai di kosku tiba-tiba didatangi para preman. Preman itu berjumlah empat orang. Ketika masuk ke kosku, mereka langsung marah-marah yang tidak jelas. Aku tentu saja sangat kaget dan bingung kenapa mereka tiba-tiba marah padaku padahal aku tak pernah berbuat salah pada mereka.

Dari keempat preman itu, dua di antaranya tidaklah asing bagiku. Mereka sudah sering kulihat di daerah tempat kosku tinggal. Tapi aku tak mengenalnya, juga tak tahu namanya siapa. Sedangkan dua yang lainnya aku sama sekali belum pernah melihatnya.

Mereka saling bergantian memarahiku, sedangkan aku diam saja karena masih bingung. Setelah lama dimarah-marahi, akhirnya aku sedikit mengerti maksud mereka. Ternyata mereka tidak suka denganku, yang menurut penilaian mereka aku ini sombong, setiap kali berjumpa tidak pernah menegur sapa mereka, bahkan aku dianggap terkesan sinis terhadap mereka (setiap memandang).

Hal itu sontak membuat nyaliku sedikit ciut, aku merasa tampaknya mereka mau memukuli aku rame-rame. Ditambah dengan ditutupnya pintu depan kosku oleh seorang dari preman itu, membuat perasaanku tambah tidak enak. Kemudian salah satu dari mereka mengingatkanku untuk tidak lagi sombong dan sok jagoan di kampung mereka.

Aku berusaha untuk minta maaf dan aku mengungkapkan penyesalan atas tingkahku yang membuat mereka tidak suka. Dengan wajah pucat pasi kujelaskan sebenarnya aku tidak pernah bermaksud untuk menjadi seperti yang mereka tuduhkan padaku.  Sebagai orang pendatang aku juga menginginkan kehadiranku diterima dengan baik oleh masyarakat. Kemudian aku juga berjanji untuk mengubah sikapku, untuk tidak lagi bertingkah sombong atau tingkah lain yang membuat mereka tidak suka.

Beruntung permintaan maafku itu bisa diterima oleh mereka. Kami kemudian saling berjabat tangan. Alhamdulillah, setelah berjabat tangan tingkah mereka menjadi baik padaku. Dan terakhir mereka berpesan jika nantinya ketemu di jalan jangan segan-segan untuk menegur sapa. “Iya Bang” ucapku (sambil menghela nafas panjang (lega).

Dari pengalaman tersebut memberiku sedikit pelajaran. Sebagai seorang pendatang kita hendaknya bisa berbaur dengan masyarakat. Budaya, tradisi dan kebiasaan kita di kampung halaman tidak bisa dibawa-bawa di kampung orang. Ketika kita berada di kampung orang, tradisi merekalah yang harus kita ikuti. Agar kita bisa menyesuaikan diri / beradaptasi dengan lingkungan sekitar & diterima dengan baik oleh masyarakat sekitar.

Kejadian ini membuatku ingat sebuah pepatah:  Di mana bumi berpijak, di sana langit dijunjung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: