“Janganlah Politik yang Dikambing Hitamkan”

Dewasa ini permasalahan terkait politik semakin kompleks. Politik dianggap sebagai hal yang identik dengan masalah yang berbau kotor, buas dan menakutkan.  Saking buruknya citra politik di mata masyarakat, kini masyarakat tidak mau percaya lagi dengan hal-hal yang berkaitan dengan politik ini. Karena telah banyak fenomena politik yang membuat masyarakat sering dikecewakan. Masyarakat selalu dijadikan objek atas kepentingan politik.

Misalnya saja dalam kasus pemilu, dapat terlihat bagaimana tingkah laku para politikus mendekati masyarakat. Mereka hadir sebagai sosok sang pahlawan yang mengatasnamakan sebagai pembela kepentingan rakyat. Beragam cara mereka lakukan untuk mencuri perhatian masyarakat agar dapat terpilih menjadi pemenang. Bahkan jalan pintas yang dilarang dalam peraturan perundang-undangan seringkali mereka lakukan. Dengan bermodalkan kekayaan yang dimilikinya para politikus memanfaatkannya untuk membeli suara masyarakat untuk memilihnya. Atau yang sering disebut sebagai money politik. Akhirnya tanpa berbekal pengetahuan tentang politik mereka bisa duduk di kursi dewan yang terhormat atau sebagai kepala daerah.

Tapi setelah memenangi pemilu, bisakah mereka mewujudkan janji-janji indah mereka terhadap masyarakat?  Bisakah mereka melakukan tugas-tugasnya dengan baik? Atau terwujudkah sudah kesejahteraan masyarakat yang selalu mereka teriakan waktu pemilu lalu?

Ini pertanyaan-pertanyaannya yang membuat miris dan sedih serta kecewanya perasaan. Karena ternyata setelah menang dalam pemilu mereka kebanyakannya menjauh dari masyarakat. Mereka kemudian asyik menuntut hak-haknya tanpa memperdulikan etika dari berpolitik itu sendiri. Lihat saja beberapa fenomena yang telah lalu, tingkah laku dewan yang meminta gedung barunya yang super mewah. Kalau tidak salah biaya untuk membangun gedung baru tersebut menguras kas Negara hingga bermilyar-milyaran rupiah. Jumlah yang tidak sedikit tentunya, padahal kalau dilihat gedung lamanya masih layak pakai.

“Apa tidak mubazir Pa Dewan Yth?”

“Katanya dulu akan membela kepentingan rakyat atas kepentingan pribadi dan partai. Lupa ya?:”

“Jangan bersilat lidah lagi dahh, kami sudah muak sama janji-janji palsu bapak!”

Belum lagi tuntutan mereka untuk biaya aspirasi, biaya tunjangan pulsa, fasilitas I Pad, mobil dinas mewah, rumah dinas mewah, serta yang lain-lainnya. Yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Kalau disebutkan semuanya mungkin tulisan ini hanya dipenuhi oleh tuntutan para politikus itu saja. (Capee dech)

Tidak cukup menuntut fasilitas yang mewah-mewah, ternyata para politikus juga sering bertindak korup. Banyak kasus telah terjadi para politikus melakukan tindak pidana korupsi. Kalau disebutkan keseluruhan tulisan ini juga mungkin hanya dipenuhi oleh kasus-kasus korupsi ini saja.  Untuk itu kita sebut saja salah satu contohnya yang baru-baru ini masih hangat dan cukup heboh yaitu kasus Nazaruddin yang seorang anggota dari partai penguasa negeri ini terkait korupsi Wisma Atlet. Dalam kasus itu Nazaruddin juga menyebutkan beberapa nama dari anggota se partai dengannya yang ikut-ikutan menikmati hasil korupsi itu. Kalau melihat perkembangannya kasus ini masih dalam tahap pemeriksaan oleh lembaga yang berwenang. Kita do’akan saja semoga kasus ini bisa terungkap jelas tanpa memandang bulu siapa pun pelaku-pelakunya

Atas runyamnya percaturan politik selama ini menimbulkan sinisme masyarakat dalam memandang politik itu. Masyarakat sudah tidak percaya lagi akan hal-hal yang berbau politik. Sehingga pernah terdengar semboyan di masyarakat kurang lebih seperti ini : “DEMOKRASI YES, POLITIK NO !!!”.

Terlepas dari semuanya itu kemudian kita sinkronkan fenomena-fenomena yang terjadi dalam kenyataan terkait politik dengan teori-teori dari ilmu politik itu sendiri. Apakah sesuai fenomena politik yang terjadi dengan yang diajarkan dalam ilmu politik? Apakah dalam ilmu politik itu memang diajarkan untuk bertindak korup, bersilat lidah, membohongi rakyat atau tindakan tipu-tipu lainnya?

Secara umum politik didefinisikan sebagai upaya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Definisi ini telah ada sejak zaman Yunani Kuno, mereka memandang politik sebagai panduan untuk dapat memperbaiki kehidupannya. Kemudian politik juga sering diartikan sebagai  cara-cara pemerintah dalam menjalankan kekuasaannya. Dalam mempelajari politik pemerintah dapat menggunakan kekuasaannya sesuai dengan ketentuan dalam peraturan yang ditetapkan. Jadi pemerintah tahu bagaimana seharusnya dalam bertindak, dan tidak akan berbuat sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

Kalau melihat dari paparan di atas mengenai ilmu politik itu, ternyata tidak sedikitpun politik itu mengajarkan untuk berbuat korup, bersilat lidah, membohongi rakyat atau perbuatan-perbuatan buruk yang lainnya.  Jika demikian, berarti yang patut disalahkan bukan politiknya (ilmu) tapi terkait dengan personalnya sendiri (individu yang memainkan peran politik).

Jadi dapat kita simpulkan bahwa politik itu bukan kejam, beringas, kotor atau yang lainnya. Semua itu tergantung dari siapa yang memainkan peran politik itu sendiri (aktornya). Jika aktornya orang yang baik, maka dia dalam bertindak pasti memikirkan etika dalam politik. Setiap tindakannya pasti akan selalu memikirkan kepentingan orang banyak. Sosok politikus yang demikian ada dalam negeri kita, coba tengok dalam buku “Bukan  di Negeri Dongeng”.

Begitu juga sebaliknya, jika aktornya buruk, tentu tindakannya juga akan buruk. Demi keinginan atau kepentingan yang semu ia akan lupa masyarakat yang seharusnya dirangkulnya.

Setelah membaca tulisan ini semoga pembaca sekalian dapat merubah persepsi buruknya terhadap politik itu.

Mungkin sekian yang dapat saya tulis, salah khilaf mohon maaf.

Wss. Wr. Wb

Sekarang mari kita teriakan :

“POLITIK? YES!!!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: