RENTE

David Ricardo adalah pakar ekonomi yang pertama kali mengembangkan konsep rente. Ricardo mengamati suatu tingkat kesuburan tanah yang berbeda-beda. Jika tanahnya subur, maka petani dapat beroperasi dengan biaya yang lebih rendah. Sebaliknya jika tanahnya kurang subur, petani memerlukan biaya yang lebih tinggi dalam pengoperasiannya. Atas perbedaan tingkat keseburan tanah tersebut berdampak / berpengaruh terhadap sewa tanah. Ricardo menyebut sewa tanah itu sebagai perbedaan antara penerimaan yang diperoleh petani yang memiliki tanah lebih subur dengan penerimaan yang diterima oleh petani marjinal (petani yang menggarap tanah paling tidak subur tetapi tetap bisa beroperasi di mana penerimaannya hanya cukup untuk menutup ongkos produksi). Sewa tanah  terkait dengan tingkat kesuburannya, semakin subur tanahnya maka sewanya pun semakin tinggi.

Adapun menurut Nicholson (1999) yang dimaksud rente itu adalah kelebihan pembayaran atas biaya minimum yang diperlukan untuk tetap mengonsumsi faktor produksi tersebut. Rente disebut juga sewa ekonomi. Contoh rente seperti laba yang diterima sebuah perusahaan monopoli dalam jangka yang panjang. Laba tersebut diperoleh karena adanya kekuatan monopoli atas faktor produksi tertentu yang menyebabkan tingginya pembayaran terhadap faktor tersebut, dari jumlah yang diterima seandainya  faktor tersebut juga dimiliki perusahaan lain. Segala bentuk keuntungan eksesif (super normal) yang berhubungan dengan struktur pasar barang dan jasa yang mengarah ke monopoli disebut rente.

Agar bisa memperoleh keuntungan yang lebih tinggi pengusaha berkolusi dengan penguasa. Supaya penguasa mengeluarkan kebijakan-kebijakan ekonomi yang lebih menguntungkan bagi pengusaha (seperti kebijakan larangan impor, tarif dan kuota). Kemudian pengusaha memberikan imbalan / sogokan baik berupa uang tunai maupun hadiah kepada penguasa tersebut sebagai imbalannya. “Laba” yang diterima penguasa melalui kekuasaan yang dimilikinya dan digunakan untuk mengejar kepentingan pribadi juga disebut rente. Sedangkan perilaku aparat atau penguasa yang mengharapkan imbalan atas kebijakan yang dikeluarkannya disebut perilaku “kalap rente”.

Para aktor Negara di Negara-negara berkembang kebanyakannya hanya memikirkan kepentingan pribadi, kelompok atau partai di balik berbagai kebijakan ekonomi dan politik yang diambil, tanpa memperhatikan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat dan keuangan Negara. Perilaku kalap  rente tersebut tidak hanya menimbulkan distorsi tetapi juga menciptakan inefesiensi.

Untuk mengatasi permasalahan rente ini, sebagian pakar ekonomi menyarankan agar Negara-negara sedang berkembang itu melakukan liberalisasi, swastanisasi dan desentralisasi. Sebagian pakar lain menganjurkan agar Negara-negara sedang berkembang lebih aktif menciptakan kebijakan ekonomi makro yang kondusif, mendorong pertumbuhan ekonomi, melakukan penyesuaian kebijaksanaan sektoral, menciptakan efisiensi dan kepekaan terhadap pasar, serta yang lebih penting lagi mengurangi intervensi pemerintah dalam aktivitas ekonomi.

Sumber : Deliarnov, 2006, Ekonomi Politik, Jakarta : Erlangga

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    lulu said,

    Makasih, tulisannya membantu sy bt ngerjakn tgs kul

  2. 2

    deddysumardi said,

    Ya semoga bermanfaat…


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: