DEMOKRATISASI

Demokrasi sudah ada sejak masa Yunani Kuno, untuk mencapai era demokratisasi seperti yang kita bisa saksikan pada masa kini memerlukan proses yang sangat panjang. Secara etimologi demokrasi itu berasal dari kata demos (rakyat) dan kratos (aturan). Para pemikir Yunani Kuno telah mengajukan gagasan- gagasan cemerlang untuk menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat. Sejarah demokrasi berawal dari pidato Pericles di depan masyarakat Athena pada masa itu. Demokrasi didefinisikannya sebagai kesamaan (equality), pemilihan orang berdasarkan kemampuan dan toleransi atas perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kemudian Aristoteles melanjutkan pemikiran Pericles ini, Aristoteles mengajukan “social-base-democracy”. Merupakan paham yang lebih melihat bahwa demokrasi harus memerhatikan aspek sosial ketimbang hanya mengejar kekayaan (wealth). Pandangan mereka kemudian lebih dikembangkan lagi dalam sejarah pemikiran Eropa dengan melahirkan pemikir-pemikir demokrasi modern, seperti : Mountesquieu, Machiavelli, Hobbes, John Stuart Mills, John Locke, Tocqueville dan Rosseau.

Dari Mountesquieu dunia mengenal pembagian kekuasaan politik dalam tiga lembaga (trias politica), yakni lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif. Sementara Tocqueville selalu mengingatkan bahwa suara terbanyak dan mayoritas tidak selalu mencerminkan kebenaran karena potensi tirani mayoritas akan selalu menghantui demokrasi. Sehingga yang sangat dibutuhkan dalam demokrasi adalah perimbangan kekuasaan yang dapat memberikan counter balance dan alternatif bagi masyarakat.

Demokrasi diartikan dengan sangat luas dan beragam. Studi literature yang dilakukan Collier dan Levitsky (1997) menunjukan bahwa tidak kurang terdapat 550 definisi demokrasi. Beetham (1994) melihat demokrasi bisa dikatakan berjalan ketika terpenuhi beberapa karakteristik seperti pemilihan umum yang fair dan periodik, pertanggungjawaban Negara di depan rakyat, dan jaminan kebebasan dalam berekspresi dan berorganisasi.

Dewasa ini, demokrasi mengalami perkembangan dengan menggabungkan paham kebebasan individu (liberalisme) ke dalam demokrasi. Teori demokrasi modern sarat dipengaruhi oleh doktrin demokrasi liberal (Fukuyama, 1992). Demokrasi liberal diartikan sebagai suatu sistem politik yang melindungi kebebasan individu dan kelompok, yang di dalamnya terdapat ruang bagi masyarakat sipil serta ruang privat yang independen dan terlepas dari kontrol pemerintah.

Demokrasi bisa dikatakan tidak liberal jika  pelanggaran hak asasi manusia masih tetap terjadi meskipun pemilu secara berskala sudah diadakan. Dalam hal ini, pemilu secara periodik dan pergantian kekuasaan belum secara otomatis menghasilkan perbaikan kondisi hidup bermasyarakat. Demokrasi juga dikatakan tidak liberal jika demokrasi itu lebih menekankan semangat kolektivitas ketimbang individualitas. Menurut jenis demokrasi ini, semangat menjaga kesamaan dan harmonisasi untuk mencapai tujuan bersama lebih utama dibandingkan dengan sekedar mengejar kepentingan perorangan.

Pemikiran tentang demokrasi berasal dari suatu tujuan untuk menciptakan suatu pola pemerintahan yang memungkinkan terciptanya kesejahteraan dan keadilan rakyat. Hal ini tidak akan tercipta apabila proses yang mengantarkan dan membentuk penguasa tidak mencerminkan dan merepresentasikan mayoritas keinginan dan kebutuhan masyarakat. Demokrasi juga membutuhkan suatu konstitusi untuk mengatur tugas dan wewenang masing-masing lembaga dalam struktur Negara (Diamond, 2003). Dengan adanya pembagian kekuasaan, para penguasa tidak dapat sewenang-wenang mencengkeramkan kekuasaan mereka untuk kepentingan diri atau kelompok mereka sendiri. Atas dasar pemikiran inilah kemudian berkembang gagasan untuk mendemokrasikan atau demokratisasi seluruh Negara di dunia dengan banyak campur tangan dari Negara-negara kuat.

Sumber : Firmanzah, 2008, Marketing Politik, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Hal : 302-305

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: