Resep Popkin untuk Memajukan Petani

Reaksi Popkin terhadap sifat ortodoks ekonomi moral dalam memandang kemajuan mirip dengan reaksi pelawak Will Rogers : “Keadaan sekarang tak sebaik waktu dulu. Namun masalahnya, keadaan dulu juga tak pernah baik”.

Menurut Popkin, ajaran tentang moral petani lebih buruk dari penjajahan dan kapitalisme. Dengan moral petani, tidak ada hasil yang dapat dikumpulkan dan dengan demikian juga tidak ada harta yang yang bisa dihancurkan. Lebih lanjut, Popkin menilai bahwa aliran ekonomi moral terlalu melebih-lebihkan aspek kebaikan hati dari hubungan patron-client. Nyatanya, “orang besar” (Big Men, Landlord, atau patron) lebih sering memanipulasi petani.

Popkin justru menemukan bukti bahwa petani kaya di pedesaan lebih sering mengeksploitasi dan memanfaatkan kedudukan istimewanya dalam politik dan status sosial. Banyak “orang besar” mengeksploitasi lembaga-lembaga pedesaan untuk kepentingan sendiri. Bahkan, banyak “orang besar” menolak tawaran-tawaran perusahaan (seperti perbaikan pendidikan dan teknik-teknik pertanian) sebab hal ini akan mengurangi kekuasaan mereka dan ketergantungan petani kepada mereka.

Bagaimana sebaiknya membantu petani yang relative tertinggal tersebut? Menurut Popkin cara terbaik untuk membantu petani bukan dengan nilai-nilai moral yang mengajarkan kekompakan senasib sepenanggungan di antara petani, melainkan dengan memperkenalkan individualisme dan pilihan individual sehingga mereka bisa memilih alternative terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Menurut Popkin, tindakan petani yang enggan mencoba inovasi baru, misalnya menggunakan bibit unggul untuk menggantikan bibit local, bukanlah tindakan yang tanpa perhitungan. Justru karena mereka rasional, mereka harus hati-hati dan menerapkan inovasi baru, sebab kalau penggunaan bibit unggul tersebut ternyata gagal, mereka terancam kelaparan selama satu musim tanam.

Pandangan Popkin tentang pola hubungan petani dengan “orang besar” dan kelompok juga sangat berbeda dengan pandangan Scott. Kalau Scott mengatakan bahwa petani sering menggantungkan hidupnya pada “orang besar” dan kelompok, Popkin berdasarkan hasil pengamatannya menyimpulkan bahwa petani tradisional lebih menggantungkan hidupnya pada keluarga atau kelompok-kelompok yang lebih kecil untuk menjamin subsistensi mereka, bukannya kepada “orang besar” atau kelompok besar. Petani tidak tertarik menggantungkan hidupnya pada “orang besar” dan pada kelompok besar sebab tidak efektif, karena setiap orang di dalam masyarakat pada dasarnya menginginkan keuntungan dari tindakan kolektif dengan partisipasi seminimal mungkin.

Cara Popkin untuk membantu petani keluar dari kungkungan kemiskinan dan keterbelakangan sama dengan pandangan Schultz, yang memberikan resep sebagai berikut :  bangun pendidikan bagi mereka, dan kemudian injeksikan tekhnologi yang dapat dijangkau dan murah. Kalau kedua hal ini dilakukan, demikian Schultz melanjutkan, petani miskin itu bahkan dapat mengubah lumpur menjadi emas.

Sumber : Deliarnov, 2006, Ekonomi Politik, Jakarta : Erlangga

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: