MENGENALI WARNA-WARNI PEMILIH

Apakah anda mau menjadi seorang wakil rakyat? Atau mau jadi calon Bupati?  calon Gubernur? Atau calon Presiden ?

Terwujudnya impian anda tentu memerlukan dukungan rakyat untuk memilih anda. Bagaimana untuk mendapat dukungan dari rakyat? Money politic ga jaman lagi kali.

Untuk mewujudkan impian anda, anda perlu memahami beberapa hal, terutama mengenai perilaku pemilih sebagai konsumen politik. Pembahasan tentang permasalahan ini saya dapatkan dari buku MARKETING POLITIK pada salah satu babnya. Untuk itu saya ingin berbagi atas hasil bacaan saya mengenai permasalahan ini. Semoga bermanfaat…

Yang pertama-tama kita perlu untuk mengetahui yang dimaksudkan dengan pemilih itu apa. Secara garis besar, pemilih diartikan sebagai semua pihak yang menjadi tujuan utama para kontestan untuk mereka pengaruhi dan yakinkan agar mendukung dan kemudian memberikan suaranya kepada kontestan bersangkutan.

Mencoba memahami faktor-faktor yang melatarbelakangi mengapa dan bagaimana pemilih menyuarakan pendapatnya adalah sesuatu yang penting, baik dalam teori maupun praktik (Quist & Crano.2003). Salah satu model psikologis yang bisa digunakan untuk menganalisis perilaku pemilih dalam menentukan pilihannya adalah model kesamaan (similarity) dan daya tarik (attraction) (Newcomb, 1978; Byrne et al., 1986). Dalam bahasa lain, semakin dua pihak berbagi karakteristik yang sama (similarity), akan semakin meningkat pula rasa saling tertarik (attraction) satu sama lain. Menurut perspektif ini, kelompok-kelompok yang tercipta dalam masyarakat lebih disebabkan oleh kenyataan bahwa masing-masing individu dalam suatu kelompok memiliki kesamaan, sehingga kemudian mereka mengikatkan diri dengan yang lain untuk membuat grup-grup dalam masyarakat.

Florina (1981), Enelow dan Hinich (1984) memelajari pengaruh dari isu dan masalah dalam proses pengambilan keputusan politik. Disimpulkam bahwa pemilih menaruh perhatian yang sangat tinggi atas cara kontestan (partai politik atau calom pemimpin) dalam menawarkan solusi sebuah permasalahan. Semakin efektif seorang/suatu kontestan dalam menawarkan solusi yang tepat untuk menjawab permasalahan, semakin tinggi pula probabilitas untuk dipilih oleh para pemilih. Agar bisa diterima oleh masyarakat, solusi yang ditawarkan harus memiliki kekuatan argumentative dan didukung oleh data-data yang akurat.

Adapun criteria dari pemilih, yaitu terdiri dari empat (4) criteria antara lain:

1. Pemilih Rasional

Pemilih memiliki orientasi tinggi pada policy-problem-solving dan berorientasi rendah untuk faktor ideologi. Pemilih dalam hal ini lebih mengutamakan kemampuan partai politik atau calon kontestan dalam program kerjanya. Program kerja atau platform partai bisa dianalisis dalam dua hal : 1) Kinerja partai di masa lampau (backward looking) dan 2) tawaran program untuk menyelesaikan permasalahan nasional yang ada (forward looking).Kinerja partai atau kontestan biasanya termanifestasikan pada reputasi dan citra (image) yang berkembang di masyarakat. Dalam konteks ini yang lebih utama bagi partai politik dan kontestan adalah mencari cara agar mereka bisa membangun reputasi di depan publik dengan mengedepankan kebijakan untuk mengatasi permasalahan nasional. Pemilih jenis ini menggunakan analisis kognitif dan pertimbangan logis yang sangat dominan dalam proses pengambilan keputusan. Hal yang terpenting bagi mereka adalah apa yang bisa (dan yang telah) dilakukan oleh sebuah partai atau kontestan. Oleh karena itu ketika sebuah partai politik atau calon kontestan ingin menarik perhatian pemilih dalam matriks ini, mereka harus mengedepankan solusi logis akan permasalahan ekonomi , pendidikan, kesejahteraan, sosial-budaya, hubungan luar negeri, pemerataan pendapatan, dan lain-lain. Pemilih jenis ini tidak segan berpindah ke lain hati, jika suatu partai atau kontestan tidak sesuai lagi dengan apa yang mereka harapkan.

2. Pemilih Kritis

Pemilih jenis ini merupakan perpaduan antara tingginya orientasi pada kemampuan partai politik atau seseorang kontestan dalam menuntaskan permasalahan bangsa maupun tingginya orientasi mereka akan hal-hal yang bersifat ideologis. Pentingnya ikatan ideologis membuat loyalitas pemilih terhadap sebuah partai atau kontestan cukup tinggi dan tidak semudah rational voter untuk berpaling ke partai lain. Proses untuk menjadi pemilih jenis ini bisa terjadi melalui dua mekanisme, pertama, jenis pemilih ini menjadikan nilai ideologis sebagai pijakan untuk menentukan kepada partai politik mana mereka berpihak dan selanjutnya mereka akan mengkritisi kebijakan yang akan atau yang telah dilakukan. Kedua, bisa juga terjadi sebaliknya, pemilih tertarik dulu dengan program kerja yang ditawarkan kemudian memahami nilai-nilai dan paham yang melatarbelakangi pembuatan sebuah kebijakan. Pemilih jenis ini adalah pemilih yang kritis, artinya mereka akan selalu menganalisis kaitan antara sistem nilai partai (ideologi) dengan kebijakan yang dibuat. Tiga kemungkinan yang akan muncul ketika terdapat perbedaan antara nilai ideologi dengan platform partai : 1) memberikan kritik internal, 2) frustasi, 3) membuat partai baru yang memiliki kemiripan karakteristik ideologi dengan partai lama. Pemilih jenis ini harus di manage sebaik mungkin oleh sebuah partai politik atau seeorang kontestan. Pemilih memiliki keinginan dan kemampuan untuk terus memperbaiki kinerja partai, sementara kemungkinan dan kemampuan untuk terus memperbaiki kinerja partai, sementara kemungkinan kekecewaan yang bisa berakhir ke frustasi dan pembuatan partai politik tandingan juga besar. Apalagi ketika suatu Negara menganut sistem multipartai, dimana Negara selalu memfasilitasi berdirinya partai baru, hal ini semakin memperbesar tekanan pada sebuah partai politik untuk memfasilitasi dialog antara pemilih dengan kebijakan partainya. Hal ini dilakukan untuk meminimkan resiko negatif karena kekecewaan yang muncul. Di sisi lain, kritikan mereka juga bisa digunakan utnuk meningkatkan kualitas kebijakan sebuah partai politik.

3. Pemilih Tradisional

Pemilih dalam jenis ini memiliki orientasi ideologi yang sangat tinggi dan tidak terlalu melihat kebijakan partai politik atau kontestan sebagai sesuatu yang penting dalam pengambilan keputusan. Pemilih tradisional sangat mengutamakan kedekatan sosial-budaya, nilai, asal usul, paham, dan agama sebagai ukuran untuk memilih sebuah partai politik. Kebijakan partai dianggap sebagai parameter kedua. Mereka tidak terlalu memusingkan diri pada kebijakan apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan partai politik yang mereka dukung. Biasanya pemilih jenis ini lebih mengutamakan figur dan kepribadian pemimpin, mitos dan nilai historis sebuah partai politik atau seorang kontestan. Salah satu karakteristik mendasar jenis pemilih ini adalah tingkat pendidikan yang rendah dan sangat konservatif dalam memegang nilai serta paham yang dianut. Pemilih tradisional adalah jenis pemilih yang dimobilisasi selama periode kampanye (Rohrscheneider, 2002). Loyalitas tinggi merupakan salah satu cirri khas yang paling kelihatan bagi pemilih jenis ini. Apa saja yang dibilang dan dikatakan oleh seorang leader politik merupakan sebuah kebenaran yang sulit dibantah. Ideologi dianggap sebagai suatu landasan dalam membuat suatu keputusan serta bertindak, dan terkadang kebenarannya tidak bisa diganggu gugat. Oleh sebab itu, apa saja yang diutarakan pemimpin politik dianggap sebagai petunjuk dalam bersikap dan bertindak. Meskipun ideologi, dalam hal ini diasumsikan sulit sekali berubah, bukan berarti tidak bisa mengalami evolusi seiring dengan perjalanan waktu. Sehingga menjadi penting juga bagi partai politik atau pemimpin untuk terus memupuk mitos, imajinasi, fantasi, dan paham sebuah partai politik, karena faktor-faktor tersebut yang menjadi parameter terpenting bagi jenis pemilih ini.

4. Pemilih Skeptis

Tidak memiliki orientasi ideologi yang cukup tinggi dengan sebuah partai politik atau kontestan, juga tidak menjadi kebijakan sebagai sesuatu yang penting. Keinginan untuk terlibat dalam sebuah partai politik pada pemilih jenis ini sangat kurang, karena ikatan ideologis mereka memang rendah sekali. Mereka juga kurang memedulikan platform dan kebijakan sebuah partai politik. Golongan putih sangat didominasi jenis pemilih ini. Kalaupun berpartisipasi dalam pemungutan suara, biasanya mereka melakukannya secara acak atau random. Mereka berkeyakinan bahwa siapapun dan partai apapun yang memenangkan pemilu tidak akan bisa membawa bangsa ke arah perbaikan yang mereka harapkan. Selain itu mereka tidak memiliki ikatan emosional dengan sebuah partai politik atau seorang kontestan. Jika dalam sebuah pemilu didominasi oleh pemilih skeptis ini, maka akan timbul permasalahan. Karena akan mengurangi legitimasi hasil pemilu dengan rendahnya angka partisipasi pemilih selama pemilu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: