Memahami Neomarxisme dan Strukturalisme

1. Neomarxisme

Menurut Baran & Davis (2000) Neo-Marxism adalah sebuah aliran yang berkembang di abad ke 20 yang mengingatkan kepada awal tulisan Marx sebelum dipengaruhi oleh Engels. Aliran ini memusat pada idealisme dialektika dibanding pemahaman materialisme dialektika yang menolak determinisme ekonomi awal Marx. Pemahaman Neomarxist tidak mengamalkan perubahan secara evolusi. Menurut teori ini, transformasi boleh berlaku secara perlahan. Pemahaman neomarxist memusatkan pada suatu revolusi psikologis bukan fisik, yang bermakna bahawa perubahan idea yang datang dari jiwa seseorang lebih penting daripada perubahan secara fisik.

Neo Marxisme adalah aliran pemikiran Marx yang menolak penyempitan dan reduksi ajaran Karl Marx oleh Engels. Ajaran Marx yang dicoba diinterpretasikan oleh Engels ini adalah bentuk interpretasi yang kemudiannya dikenali sebagai “Marxisme” rasmi. Marxisme Engels ini adalah versi interpretasi yang digunakan oleh Lenin. Interpretasi Lenin nanti pada akhirnya berkembang menjadi Marxisme-Leninisme (atau yang lebih dikenal dengan Komunisme).

Di kalangan neo marxis dari Universitas Frankfurt Jerman timbul pemikiran baru yng dinamakan Teori Kritis. Sekolah Frankfurt menjadikan pemikiran Marx sebagai titik tolak pemikiran sosialnya. Tapi yang perlu harus diingat adalah bahwa Sekolah Frankfurt tetap mengambil semangat dan alur dasar pemikiran filosofis idealisme Jerman, yang dimulai dari pemikiran kritisisme ideal Immanuel Kant sampai pada puncak pemikiran kritisisme historis dialektisnya Georg William Friederich Hegel. Dengan sangat cerdas, sebagian besar pemikir dalam sekolah Franfurt berdialog dengan Karl Marx, Hegel dan I. Kant. (menekankan pada aspek komunisme tanpa kekerasan dan juga tidak mendukungkapitalisme).

Asumsi Dasar Neo Marxis

Asumsi dasar dari neomarxisme itu sendiri adalah dunia ini bukanlah terpilah berdasarkan sovereignity yang dimiliki oleh negara sehingga menentukan batasbatasnya dalam sistem internasional. Tetapi yang diasumsikan oleh neomarxisme adalah sistem internasional yang terpilah berdasarkan kelas. Yaitu kelas kapitalis-eksploiter (dalam marxisme adalah borjuis) dan kelas negara dunia ketiga atau negara periphery (dalam marxisme adalah proletar) yan menjadi obyek eksploitasi karena memiliki sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh negara bermodal (kapital).

Perbedaan neo-marxisme dengan Marxis ortodoks dalam beberapa hal sebagai berikut:

  • Marxis ortodoks melihat imperialisme dari sudut pandang negara-negara utama (core countries), sebagai tahapan lebih lanjut dari perkembangan kapitalisme di Eropa Barat, yakni kapitalisme monopolistic, neo-marxisme melihat imperialisme dari sudut pandang negara pinggiran, dengan lebih memberikan perhatian pada akibat imperilalisme pada negara-negar dunia ketiga.
  • Marxis ortodoks cenderung berpendapat tentang tetap perlu berlakunya pelaksanaan dua tahapan revolusi. Revolusi borjuis harus terjadi lebih dahulu sebelum revolusi sosialis. Marxis ortodoks percaya bahwa borjuis progresif akan terus melaksanakan revolusi borjuis yang tengah sedang berlangsung dinegara Dunia Ketiga dan hal ini merupakan kondisi awal yang diperlukan untuk terciptanya revolusi sosialis dikemudian hari. Dalam hal ini neo Marxismen percaya, bahwa negara Dunia Ketiga telah matang untuk melakukan revolusi sosialis.
  • Terakhir, jika revolusi sosialis terjadi, Marxisme ortodoks lebih suka pada pilihan percaya, bahwa revolusi itu dilakukan oleh kaum proletar industri di perkotaan. Dipihak lain, neo-Marxisme lebih tertarik pada arah revolusi Cina dan Kuba. Ia berharap banyak pada kekuatan revolusioner dari para petani di pedesaan dan perang gerilya tentara rakyat.

Kelemahan Neo Marxis

Terjadi ketergantugan antara negara yang kuat (leading sector) dengan negara yang miskin (legging sectors) dimana perspektif ini cenderung untuk berfokus pada masalah pusat dan modal internasional sebagai penyebab kemiskinan dan keterbelakangan, daripada masalah pembentukan kelas-kelas lokal.

Kelebihan Neo Marxis

Perspektif Neo-Marxis/ Depedencia , Bertujuan untuk mengupayakan pertumbuhan, pemerataan dan juga otonomi nasional. Peran negara dalam perspektif Neo Marxis ini bersifat primer, dan usaha ditujukan untuk menghadapi kapitalis dunia. Sifat dari system internasional lebih cenderung merugikan si lemah.

 

2. Strukturalisme

Strukturalisme muncul di Prancis tahun 1960, dan dikenal pula dalam lingustik, psikiatri, dan sosiologi. Strukturalisme pada dasarnya adalah aliran pemikiran yang berpendapat bahwa di dalam suatu masyarakat dan kebudayaan terdapat suatu struktur yang sama dan tetap. Maka kaum strukturalis menyibukkan diri dengan menyelidiki striktur-struktur tersebut. Strukturalisme adalah perspektif bottom up’ ilmu hubungan internasional yang dipengaruhi Marxisme. Asumsi-asumsi dasarnya adalah, pertama, ‘sifat dasar manusia’ tidak tetap maupun esensial, namun terkondisikan melalui masyarakat. Kedua, subjek dapat dikelompokkan menjadi kolektivitas yang dapat diidentifikasi dan dapat pula dikatakan memiliki kepentingan konkrit. Ketiga, ‘strukturalisme adalah sains’. Keempat, tidak ada perbedaan jelas antara nasional (dalam negeri) dan internasional (luar negeri). Strukturalisme memandang bahwa tata dunia kontemporer dikonstruksi oleh sistem kapitalis global dan sistem antarnegara yang berhubungan. Ciri fundamental tata dunia ini adalah ketidaksamaan yang didasarkan eksploitasi kapitalisme. Strukturalisme memandang kelas sebagai aktor dominan dalam hubungan internasional, namun tidak melupakan peran negara sebagai perpanjangan kepentingan kelas. Aktor-aktor institusional dipandang berperan membantu melegitimasi dan memelihara struktur yang ada.

Pandangan Eropa terhadap dimensi kehidupan sosial seperti konsepsi Jean Paul Sartre tentang eksistensi manusia mendahuli esensi sehingga sebagai subjek, manusia adalah mahluk yang bebas, otonom (subjektifitas). Sementara itu Claude Levi Staruss (yang juga orang Perancis) mendemonstrasikan konsepnya menentang pandangan tersbut dengan mengatakan bahwa manusia tidak sebebas apa yang telah dikemukakan Sartre. Bagi Levi Strauss, Manusia tidak selalu bertindak sadar da membuat pilihan dam kebebasan total, tetapi ada struktur yang selalu berada dibalik gejala yang diam-diam, tanpa disadari bahkan menentukan pilihan-pilihan partikular individu. Sampai pada perkembangan sejarah teori hingga kini Strukturalisme selalu diidentikkan dengan Levi Strauss yang telah berhasil mengembangkan paradigma yang terbilang sangat fenomenal dalam pendekatan kebudayaan, lebih dari itu semua upayanya dalam mengajarkan kepada kita tentang apa sesungguhnya kebudayaan.

Mengenai struktur, Levi Strauss mengatakan bahwa struktur adalah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya, yang tidak ada kaitannya dengan fenomena itu sendiri, dengan kata lain struktur adalah relations of relations (relasi dari relasi) atau system of relation. Disinilah Levi Strauss berbeda pandangan dengan Radcliffe Brown yang mengatakan bahwa relasi-relasi empiris antar individu. Struktural yang telah dikembangkan oleh Levi Staruss juga tidak terlepas dari pengaruh tokoh dan pemikiran lain, yakni Karl Marx, Sigmund Freud dan ilmu geologi. Yang menarik dari pandangan Marx menurutnya dalah bahwa bentuk-bentuk kondisi permukaan dalam masyarakat (politik dan ekonomi)  yang sekilas tampak sedanya, kacau balau seprti adanya pemogokan, kemiskinan, ekspliotasi dansebagainya sesungguhnya dapat dirunut kedalam mata rantai sebab-akibat di bawah permukaan yakni sekitarpemilikan kapital, saran produksi dan stritur kelas. Sedang melalui Sigmund Freud menerangkan tentang “ketidaksadaran”dan kemungkinan memetakan struktur jiwa manusia atau bisa Levi staruss sebutkan dengan “human mind”,dan bahwa dari sedikit tanda-tanda yang muncul dalam suatu masyarakat (mitologi, ritual dan adat) dapat disusun sebuah gambar tentang sistem kebudayaan sebuah masyarakat.

Dari Marx, Freud dan ilmu geologi ini, Levi Staruss belajar bahwa fenomena di permukaan atau biasa disebutnya dengan “struktur luar”, yang tampak seadanya ternyata ditentukan oleh “struktur dalam” yang kurang lebih bersifat teratur dan tetap.Kecuali ketiga hal tersebut yang paling mempengaruhi tentu saja adalah linguistik struktural. Seperti Ferdinand de Saussure yang merasa perlu mengkaji dan mengurai langue dan bukan Parole, Levi Staruss berpendapat bahwa kita perlu melampaui studi atas gejala yang ada di permukaan (misalnya mitos) dan mengurai logika generatif dalam sistem kultural. Penggunaan ilmu linguistik sebagai model dalam kajiannya dimungkinkan oleh keyakinan  dan pandagannya bahwa bahasa merupakan kondisi bagi kebudayaan karena material yang digunakan dalam membangun bahsa pada dasarnya adalah material yang samatipe/jenisnya dengan material yang membentuk kebudayaan. Material-material tersebut adalah relasi-relasi logis, oposis, korelasi dan sebagainya. Baik bahasa maupu kebudayaan merupakan hasil pemikiran manusia sehingga ada hubungan korelasi diantara keduanya. Selain itu pula ada beberapa asumsi yang mendasari penggunaan paradigma linguistik struktural dalam menganalisis kebudayaan, yakni:

  1. Dalam strukturalisme Levi Straus ini, beberapa aktifitas sosialseperti mitos, ritual-ritual, system kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal dan sebagainya  secara formal dapat dilihat sebagai bahasa yakni sebagaitanda dan simbol yang menyampaikan pesan tertentu. Ada keteraturan dan keterulangan dalam fenomena-fenomena tersebut.
  2. Kaum strukturalis percaya bahwa dalam diri manusia secara genetis terdapat kemampuan “structuring”,  menyusun suatu struktur tertentu di hadapan gejala-gejala yang dihadapi.
  3. Sebagaimana makna sebuah kata ditentukan oleh relasi-relasinya dengan kat-kata lain pada suatu titik waktu tertentu (sinkronis), para strukturalis percaya bahwa relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena lain pad suatu titik tertentulah yang menentukan makn fenomena tersebut.
  4. Relasi-relasi pada struktur dalam dapat disederhanakan menjadi oposisi biner.

Paham strukturalisme adalah paham yang menolak ketimpangan-ketimpangan struktural sebagai sumber ke-tidakadilan sosial-ekonomi. Kaum strukturalis mengungkapkan dan mengusut ketim-pangan-ketimpangan struktural yang berkaitan pemusatan penguasaan dan pemilikan aset ekonomi, ketimpangan distribusi pendapatan, produktivitas dan kesempatan ekonomi. Kepedulian akademik-ilmiah pemikir strukturalis meliputi pula masalah ketimpangan dalam kelembagaan, partisipasi dan emansipasi sosial-ekonomi, pengangguran, kemiskinan struktural dan masalah ketergantungan serta subordinasi sosial-ekonomi.Kaum strukturalis menempatkan ilmu ekonomi pada peran normatifnya, menjelajahi komposisi dan interrelasi antara para aktor, sektor-sektor dan variabel-variabel ekonomi dalam rangka perwujudan keadilan dan kesetaraan sosial-ekonomi. Apabila strukturalisme cenderung menolak mekanisme pasar-bebas adalah karena pasar-bebas secara inheren menumbuhkan ketidakadilan sosial-ekonomi. Demikian itulah maka strukturalisme banyak menggelar tuntutan transformasi ekonomi dan transformasi sosial yang harus dianggap inherent dalam proses pembangunan nasional. Dalam kaitannya dengan ancaman dominasi dan hegemoni kekuatan ekonomi global, maka dapatlah dipahami bahwa strukturalisme berkaitan erat dengan nasionalisme ekonomi.

4 Tanggapan so far »

  1. 1

    Anonim said,

    aktivis kah situ…makasih lah mangopi bahan…gasan tugas

    wassalam

    saputra

  2. 2

    deddysumardi said,

    Oke,,, sama2,,, mudahan bamanfaat lah….

  3. 3

    msdkm said,

    apik bos

  4. 4

    Anonim said,

    mantap bro


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: