PATRONAGE

Pernahkah anda mendengar kata patronage? Apa anda tahu patronage itu apa? Kalau anda tidak mengetahui, pembahasan patronage ini saya dapat dari buku Afan Gaffar “Politik Indonesia” pada salah satu babnya. Mengapa saya tertarik akan pembahasan tentang patronage ini? Karna kata itu pernah ada dalam penjelasan dosen saya saat kuliah, saya kurang memahami tentang patronage itu. Hingga saya inisiatif untuk mencari buku untuk mendapat pemahaman tentang patronage ini.

Di dalam buku “Politik Indonesia” dari Afan Gaffar ini dikatakan patronage itu merupakan pola hubungan dalam konteks yang bersifat individual. Oleh James Scott (1976) disebut sebagai pola hubungan patron – client. Interaksi antara dua individu (si patron dengan si client) yang bersifat timbal balik dengan mempertukarkan sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Si patron memiliki sumber daya yang berupa kekuasaan, jabatan, materi. Dan si client memiliki sumber daya yang berupa tenaga, dukungan, dan loyalitas. Mungkin salah satu contohnya yang mudah seperti hubungan antara tuan tanah dengan buruhnya, tuan tanah sebagai si Patron dan buruh sebagai si Clientnya.

Pola hubungan tersebut akan tetap terpelihara selama masing-masing pihak tetap memiliki sumber daya tersebut. Dari hubungan antara si Patron dan si Client yang paling banyak menikmati hasilnya adalah si patron. Mengapa? Karena si Patron lah yang memiliki sumberdaya yang lebih besar dibandingkan si Client.

Gejala pola hubungan antara si Patron dan Si client ini sebenarnya bukanlah hal yang baru, karena sudah terjadi sejak zaman kolonial. Heather Sutherland :”munculnya sejumlah elit nasional pada masa kolonial merupakan hasil dari pola patronage yang dikembangkan oleh kaum penjajah terhadap elit nasional.”

Munculnya sejumlah keluarga priyayi merupakan hasil dari pola hubungan clientilistic. Sebelum memasuki dunia pamong praja, mereka disekolahkan di Belanda. Dan untuk itu diperlukan dukungan dari Belanda. Setelah dalam waktu dianggap cukup, mereka pulang kembali dan menjadi penguasa di daerahnya.

Menurut Heather Sutherland, kalangan priyayi yang memasuki dunia ke-pamongprajaan memiliki gaya hidup tersendiri, seperti mereka suka akan kemewahan kalau mengadakan pesta dan menyelenggarakannya selama berhari-hari dengan biaya yang sangat tinggi, sekalipun uang mereka tidak terlampau banyak. Untuk itu, korupsi bukanlah merupakan sesuatu yang tidak umum. Hanya saja, pemerintah kolonial menutup mata atas hal tersebut. Karena begitu hausnya akan uang, tidak jarang seorang penguasa membuat kalangan pegawainya jatuh miskin karena uangnya dimakan sendiri oleh penguasa itu.

Dari gambaran yang telah diungkapkan di atas, kita dapat mengamati perilaku birokrat dan anggota dewan kita pada masa sekarang ini. Apakah sama atau tidak, jika sama berarti itu merupakan kelanjutan dari apa yang dilakukan oleh pendahulu mereka pada masa kolonial.

AFAN GAFFAR “POLITIK INDONESIA” hal 109-114

1 Response so far »

  1. 1

    Ipah said,

    Mantap, Lanjutkan!!!


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: