“PROSES DAN TEKNIK PERUNDANG-UNDANGAN”

Unsur Utama Pembentukan Perundang-Undangan

 Secara Teoritik, Istilah Legal drafting (perancangan hukum) terdiri dari 3 bagian yaitu :

                1. Teknik Perancangan PerUU-an (legislative drafting)

                2. Penyusunan kontrak nasional (national contract drafting)

                3.Penyusunan kontrak International (International Contract Drafting)

Menurut  VAN APEDOORN Teknik perancangan perUU-an adalah “cara merumuskan peraturan perundang-undangan sedemikian rupa, sehingga maksud yang dikandung oleh pembentuk perUU-an tersebut dengan jelas ternyata di dalamnya”.

Ditinjau dari sudut perancangan, suatu peraturan perUU-an dikatakan baik apabila memenuhi 4 (empat) unsur utama, yaitu :

•          Dasar berlaku secara yuridis (juridische gelding)

•           Dasar berlaku secara sosiologis (sociologsche gelding)

•           Dasar berlaku secara filosofis (filosofische gelding)

•          Teknik perancangan

Apa yang dimaksud dengan dasar berlaku secara yuridis (juridische gelding) … ?

Karena maksudnya  akan menunjukkan :

  1. Keharusan adanya kewenangan dari pembuat peraturan perundang-undangan.
  2. Keharusan adanya kesesuaian bentuk atau jenis peraturan perundang-undangan dengan materi yang diatur, terutama kalau diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya atau sederajat.
  3. Keharusan mengikuti tata cara tertentu.
  4. Keharusan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya.
  5. Apa yang dimaksud dengan dasar berlaku secara sosiologis (sociologsch gelding)… ?
  6. Dasar sosiologis artinya mencerminkan kenyataan yang hidup dalam masyarakat.
  7. Bagaimana halnya dengan dasar berlaku secara filosofis (filosofische gelding) .. ?
  8. Dalam hal ini perUU-an harus merujuk pada filsafat atau pandangan hidup bangsa yang berisi nilai-nilai moral atau etika bangsa.

Apakah dengan berlaku secara yuridis, sosiologis dan filosofis tidak ada kekurangannya ?

Kenyataanya   bisa saja  Per-UU-an itu  :

-           Tidak jelas perumusannya sepertia arti, maksud dan tujuannya  menjadi ambiguous.

-           Rumusannya menjadi interpretatif

-           Terdapat  inkonsistensi dalam menggunakan peristilahan;

-            sistematika yang tidak baik, bahasa yang berbelit-belit sehingga sukar dimengerti.

Unsur ke empat “Teknik Perancangan”

Teknik perancangan merupakan suatu hal yang tidak boleh di abaikan dalam upaya membuat Per-UU-an.

Tahap-tahap dalam perancangan peraturan perundang-undangan :

  1.  Tahap Penyusunan Naskah Akademik atau  Naskah Rancangan

                Pendapat 1 : Naskah Akademik = Naskah Rancangan

                (Tersusun dalam sistematika, bab, pasal, ayat dst)

                Pendapat 2 : Naskah Akademik ≠ Naskah Rancangan

                (Instansi/Pejabat yang membuatnya/ adanya  pertanggungjawaban akademik)

2.  Tahap Perancangan

Mencakup aspek-aspek prosedural dan penulisan rancangan (memperhatikan bahasa  normatif  dan struktur yang normatif).

II.  Asas Pembentukan Perundang-Undangan

Terdapat 5 produk hukum yang mengatur tentang hierarki, jenis dan bentuk peraturan perundang-undangan di Indonesia.

  1. UU No. 1 Tahun 1950 tentang jenis dan bentuk peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat.
  2. UU No. 2 tahun  1950 tentang metapkan UU Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Republik Indonesia Serikat.
  3. Tap MPRS No. XX/MPRS/1966 tentang Sumber Tertib Hukum dan Hierarki PerUU-an
  4. Tap MPR No. III/MPR/2000 tentang Tata Urutan Peraturan Perundang-Undangan.
  5. Keempat produk hukum di atas dinilai tidak sesuai lagi dengan dinamika ataupun perkembangan hukum ketatanegaraan Indonesia, dan sejalan dengan ketentuan bunyi Pasal 22 A UUD 1945 (amandemen ke 2)
  6. 5. UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.

Jenis dan hirarki sebagai berikut :

UUD RI Tahun 1945

UU / Perpu

Peraturan Pemerintah (PP)

Peraturan Presiden

 Peraturan Daerah (Perda) meliputi : Perda Propinsi dan Kabupaten/Kota serta Peraturan Desa.

Asas pembentukan Perundang-undagan terdapat pada pasal 5 UU No. 10 Tahun 2004, yang meliputi :

  1.   Asas kejelasan tujuan;
  2.   Asas kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat;
  3.   Asas kesesuaian antara jenis dan materi muatan
  4.   Asas dapat dilaksanakan
  5.   Asas kedayagunaan dan kehasilgunaan
  6.   Asas kejelasan rumusan; dan
  7.   Asas keterbukaan

Materi muatan Perundang-undagan harus mengandung asas (No. 10 Tahun 2004), yang meliputi :

  1.   Asas Pengayoman;
  2.   Asas Kemanusian;
  3.   Asas Kebangsaan
  4.   Asas Kekeluargaan
  5.   Asas Kenusantaraan
  6.   Asas Bhineka Tunggal Ika
  7.   Asas Keadilan
  8.  Asas Kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan
  9.   Asas Ketertiban dan Kepastian Hukum
  10. Asas Keseimbangan, Keserasian dan Keselarasan

sumber : disampaikan pada perkuliahan Prostek Per UU

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: