Perkembangan Ilmu Politik Sebagai Suatu Disiplin: Tradisionalisme, Behavioralisme, dan Post Behavioralisme

Teori Politik mempelajari tentang pemikiran-pemikiran politik secara umum dari masa klasik sampai pada masa sekarang ini. Para pemikir politik kuno memusatkan perhatiannya kepada masalah negara ideal, para pemikir politik abad pertengahan melibatkan diri mereka pada pengembangan suatu kerangka bagi adanya pendirian Kerajaan Allah di dunia, sedangkan para pemikir politik pada zaman sesudahnya telah melibatkan diri mereka pada masalah-masalah lainnya seperti kekuasaan, wewenang dan lain-lain. Tetapi pada masa selanjutnya, ilmu politik berfokus pada masalah kelembagaan dan pendekatannya yang digunakan juga semakin luas. Pendekatan yang digunakan sepanjang masa itu bersifat historis, dalam pengertian bahwa para pemikir politik lebih memusatkan perhatiannya pada upaya melacak serta menggambarkan berbagai fenomena politik yang ada, atau pada perkembangan lembaga politik yang bersifat khusus, dari pada menganalisa fenomena serta lembaga-lembaga tersebut, serta melibatkan diri dengan elemen-elemen yang bersifat abstrak. Pendekatan ini mendapat pengaruh dari Eichorn dan Sovigni dari aliran hukum yang bersifat historis.

Paham ini berasal dari Eropa Kontinental yang kemudian mempengaruhi Amerika. Namun, berbeda dengan negara asalnya, politik di Amerika memiliki keyakinan bahwa politik secara analitisdan pada derajat tertentu secara empirisdapat dibedakan dengan keseluruhan bidang ilmu sosial lainnya. Pada kuartal pertama abad ke 19 pendekatan ini telah ditambah dengan suatu perspektif yang bersifat normatif.

Karena pendekatan yang digunakan bersifat historis maka banyak orang yang dapat membedakan ilmu ini dengan sejarah. Namun, James Bryce dalam karyanya yang berjudul American Commonwealth pada tahun 1988 dan dalam Modern Democracies, ia selalu menekankan bahwa ilmu politik bukanlah cabang ilmu filsafat yang bersifat spekulatif namun ilmu yang bersifat deduktif dan mendukung upaya pencarian fakta yang tak terhingga jumlahnya.

Perkembangan-perkembangan Baru

Setelah didirikannya American Political Science Association, American Historical Association dan American Economic Association, ilmu politik telah berkembang sebagai pendekatan yang bersifat taksonomi deskriptif. Pendekatan ini berarti penekanan yang begitu besar diletakan pada pengumpulan dan penggolongan fakta-fakta tentang lembaga-lembaga serta proses-proses politik.

Dan pada awal abad 19 telah mengembangkan pengetahuan yang lebih luas tentang cara kerja berbagai lembaga politik daripada abad-abad sebelumnya. Penekanan sekarang lebih diterapkan pada kecenderungan-kecenderungan yang lebih besar dalam meneliti lembaga-lembaga dan organisasi.

Pada awal abad ke-20, Gettell mengemukakan bahwa ilmu politik mulai dipengaruhi oleh kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam beberapa tahap penelitian kalangan intelektual. Sementara itu Bryce mengemukakan bahwa ilmu politik masih belum menjangkau metode-metode pengumpulan data, pengumpulan data serta analisa data yang canggih dan teliti yang dikembangkan pada era behavioral.

Seorang pengamat yang tajam dapat melihat adanya suatu perubahan yang besar dan cepat dalam karakter ilmu politik. Charles Beard A.L Lowell serta Arthur Bentley contohnya, merekalah yang memperluas ruang lingkup ilmu politik. AL Lowell adalah pelopor pertama pendekatan baru yang menerapkan teknik statistik secara sistematis. Dalam Essays on Government ia menyadari pentingnya meneliti fungsi-fungsi pemerintahan daripada meneliti lembaga-lembaganya. Ia juga menyatakan meskipun atribut-atribut legal dari Raja dan Lords the Commons sudah begitu sering digambarkan dengan tepat, tetapi fungsi-fungsi yang dimilikinya sama sekali masih diabaikan. Graham Wallas juga menyatakan bahwa semua orang yang mempelajari politik hanya menganalisa berbagai macam lembaga  tetapi mengabaikan analisa terhadap faktor manusianya sendiri.

Arthur Bentley dan Konsep Tentang Proses

Bentley mengemukakan dua pendapat dalam The Process of Government yaitu: a. Gagasan tentang kelompok, sebagai tingkat kenyataan yang tepat bagi pemahaman serta penelitian politik dan b. konsep tentang proses, sebagai satu-satunya pendekatan yang andal untuk memahami realitas. Ia sangat mengecam ilmu politik tradisional yang dinilai terlalu formalistis, animistis, dan statis. Ia mempunyai keyakinan yang besar pada kuantifikasi dan pengukuran.

Charles Merriam dan Awal Suatu Pendekatan Ilmiah

Merriam ialah seorang bapak pembaptis intelektual dari ilmu politik yang bersifat behavioral. Ia mengorganisir suatu panitia penelitian politik serta suatu konferensi nasional tentang ilmu politik dan pendiri “social Science Research Council” sekaligus pemberi bantuan keuangan pada penelitian sosial ilmiah. Penelitiannya didasarkan pada pemanfaatan kemajuan intelejensi manusia yang dibawa ke dunia oleh ilmu-ilmu sosial dan ilmu alam

Merriam juga mendirikan “The Chicago School off Behavioral Political Science” lewat hasil karyanya New Aspects Of Politics. Dalam setiap penelitiannya ia selalu mengutamakan sifat kooperatif serta upaya kolaboratif dan menganjurkan bahwa ilmu politik harus memanfaatkan semua kemajuan berpikir manusia.

William B Munro melihat fisika sebgaai model yang paling pantas bagi adanya suatu ilmu politik yang sejati dan sementara itu G.E.C Catlin menganjurkan agar ilmu politik mengambil posisi sebagai ilmu murni yang bebas nilai.

Merriam sangat tertarik pada demokrasi, dan percaya akan pentingnya manfaat ilmu dalam pelaksanaan prinsip-prinsip demokrasi. Ia juga tak pernah menentang pentingnya ilmu politik menjadi suatu ilmu tentang kebijaksanaan.

Pengaruh Ahli-ahli Sosiologi Eropa

Pengaruh dari para sosiologi Eropa sangat mempengaruhi perkembangan politik di Amerika. Banyak nama yang memberi pengaruh besar seperti Comte, Durkheim, Weber dan Freud. Mereka dianggap sebagai perintis jalan bagi behavioralis. Mereka menyebutkan bahwa pengaruh dari suatu masyarakat yang sedang berubah mempengaruhi negara dan lembaga-lembaga politik lainnya serta menjaga adanya analisa masyarakat yang besifat netral secara etik atau bebas nilai atau yang disebut dengan teori tindakan

Perang Dunia II dan Pengaruhnya

Setelah perang, behavioralis yang bersifatThurstonian mulai ditinggalkan karena konsepsinya tentang metode ilmiah dirasakan terlalu sempit dan pilihannya terhadap sikap sebagai unit yang fundamental dianggap terlalu terbatas. Ilmu politik ketika itu mendapat pengeruh besar dari para ahli sosiologi . Perkembangan ilmu politik behavioralis dengan gerakan dan penelitian baru tidak mungkin terjadi tanpa dukungan para pemberi donatur. Merekalah yang membiayai proyek penelitian baru yang didasarkan pada aspek perilaku yang dianggap paling obyektif.

Gerakan yang terus dikembangkan oleh kaum behavioralis ditentang oleh ilmuwan politik yang beraliran humanisme. Menurut mereka behavioralisme dianggap sebagai penyangkalan yang biadap terhadap warisan-warisan yang tak ternilai.

Pendekatan-pendekatan Inter-Disipliner

Pada awalnya ilmu sosial merupakan suatu ilmu yang kemudian terpecah-pecah, akan tetapi ilmu politiklah yang paling lamban. Karena itu para ilmuwan politik menyerap pendekatan-pendekatan teoritis metodelogi dari beberapa cabang ilmu sosial lainnya. Teori yang paling berhasil adalah teori sistem dan analisa struktural yang diadaptasi dari ahli antropologi dan sosiologi . Teori ini dianggap dapat memahami proses-proses politik di negara-negara baru.

Ilmu Politik, Ekonomi, dan Psikologi

Pendekatan ekonomi sangat penting bagi politik. Karena kebijakan-kebijakan yang diambil umumnya selalu berpengaruh pada ekonomi. Sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi akibat-akibat ekonomi yang akan timbul.

Pendekatan psikologi digunakan dengan mengacu pada struktur konseptual yang didasarkan pada sifat-sifat psikologis dari individu atau kelompok-kelompok sering menjadi bagian penting dalam analisa politik. Bagian dari psikologi yang digunakan untuk penelitian politik adalah psiko-analisa oleh Freud. Digunakan untuk menganalisa keinginan menyerang dan mendominasi oleh manusia. Selain itu psikiatri oleh Dollard yang digunakan untuk memecahkan masalah konflik apabila ilmu politik harus dipahami sebagai ilmu yang bersifat terapis

Dari Behavioralisme ke Post Behavioralisme

Setelah diadakannya forum rapat (Caucus) para pendukung behavioralisme  menyadari bahwa relevansi dalam kehidupan berpolitik sangat diperlukan baik dari segi partai politik, lembaga-lembaga politik, kebijakan, desentralisasi, demokrasi dan lain-lain untuk menyelesaikan permasalahan politik. Karena itulah muncul suatu aliran Post Behavioralisme yang memiliki dua karakter utama, yaitu relevansi dan tindakan. Teori ini muncul dari David Easton

Pemahaman ini adalah suatu pemahaman terhadap implikasi-implikasi yang penuh, tindakan menentang, bahkan bersifat memberontak. Namun post behavioralisme ini tidak disebut sebagai ideologi karena didukung oleh para pendukung dari berbagai pendukung.

Menurut Easton post behavioralisme memiliki tujuh karakter utama yang menggambarkan sebagai The Credo Relevance, yaitu:

1.       Dalam penelitian politik “substansi atau isi pokok harus mendahului tekhnik

2.       Memberi penekanan utamanya pada perubahan sosial dan bukan kepada pemeliharaannya

3.       Melihat pada realitas politik yang sifatnya masih kasar

4.       Memperhatikan sistem nilai dalam penelitian politik

5.       Kaum intelektual mempunyai peranan yang harus dimainkan

6.       Ilmu yang mempunyai komitmen untuk bertindak daripada bertindak kontemplatif

7.       Politisasi profesi dari semua asosiasi sangat diperluka[1]n

 

KESIMPULAN

Teori politik mempelajari tentang perkembangan pemikiran-pemikiran politik dari masa Yunani kuno, kemudian zaman pertengahan, dan sampai pada zaman modern ini. Dimana pada masa Yunani kuno memusatkan perhatiannya pada masalah negara ideal, zaman pertengahan tentang kerangka adanya pendirian negara Allah di dunia ini, dan pada zaman selanjutnya melibatkan diri terhadap permasalahan yang lainnya seperti kekuasaan, wewenang, dll.

Ilmu Politik selalu berkembang dari masa ke masa selanjutnya, adapun dalam perkembangannya itu terdiri dari pemikiran: 1. Kaum Tradisionalisme => 2. Kaum Behavioralisme => 3. Kaum Post Behavioralisme.

1.             Kaum Tradisonalisme

Mempelajari pemikiran-pemikiran politik yang ada. Namun tidak ilmiah, tidak empiris, hanya sebatas pemikiran-pemikiran saja.

2.            Kaum Behavioralisme

Mengkritik kaum tradisionalisme, karena tidak secara ilmiah dan tidak empiris dalam mempelajari ilmu politik. Kaum behavioralisme menjadikan Ilmu Politik sebagai ilmu yang ilmiah dan empiris dengan melalui penelitian yang bersifat kuantitatif.

3.            Kaum Post Behavioralisme

Mengkritik kaum behavioralisme karena tidak memakai etika dalam ilmu politik sehingga dianggap tidak relevan dalam kehidupan berpolitik

 

Dari perkembangan pemikiran-pemikiran politik yang ada, para pemikir politik menggambarkan fenomena-fenomena yang terjadi pada masanya. Sehingga mengalami perkembangan dari masa ke masa selanjutnya.


[1] Teori Politik Modern, SP Varma. BAB I

About these ads

2 Tanggapan so far »

  1. 1

    ungosadewo said,

    mantap euy

  2. 2

    [...] 7.       Politisasi profesi dari semua asosiasi sangat diperluka[1]n [...]


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: